Tuesday, October 9, 2012

PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA KEHIDUPAN DALAM BERMASYARAKAT, BERBANGSA, DAN BERNEGARA


PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA KEHIDUPAN DALAM BERMASYARAKAT, BERBANGSA, DAN BERNEGARA

A.  Pengertian Paradigma
Awalnya istilah Paradigma berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan terutama yang kaitannya dengan filsafat ilmu pengetahuan. Tokoh yang mengembangkan istilah tersebut dalam dunia ilmu pengetahuan adalah Thomas S. Khun dalam bukunya yang berjudul The Structure of Scientific Revolution (1970: 49). Inti sari paradigma adalah suatu asumsi-asumsi dasar dan asumsi teoritis yang umum dan dijadikan sumber hukum, metode serta penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri dan karakter ilmu pengetahuan itu sendiri.
Dengan adanya kajian paradigma ilmu pengetahuan sosial kemudian dikembangkanlah metode baru yang berdasar pada hakikat dan sifat paradigma ilmu, yaitu manusia yang disebut metode kualitatif. Kemudian berkembanglah istilah ilmiah tersebut dalam bidang manusia serta ilmu pengetahuan lain misalnya politik, hukum, ekonomi, budaya, serta bidang-bidang lainya. Dalam kehidupan sehari hari paradigma berkembang menjadi terminologi yang mengandung arti sebagai sumber nilai, kerangka pikir, orientasi dasar, sumber asas, tolak ukur, parameter serta arah dan tujuan dari suatu perkembangan, perubahan, dan proses dalam bidang tertentu termasuk bidang pembangunan, reformasi, maupun pendidikan. Dengan demikian paradigma menempati posisi dan fungsi yang strategis dalam proses kegiatan. Perencanaan, pelaksanaan dan hasil- hasilnya dapat diukur dengan paradigma tertentu yang diyakini kebenaranya.

B.  Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan
Pembangunan Nasional dilaksanakan dalam rangka mencapai masyarakat adil dan makmur. Pembangunan nasional merupakan perwujudan nyata dalam meningkatkan harkat dan martabat manusia indonesia sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan tujuan negara yang tercantum dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 dengan rincian sebagai berikut:
·         Tujuan negara hukum formal, adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia
·         Tujuan negara hukum material dalam hal ini merupakan tujuan khusus atau nasional, adalah memajukan kesejahteraan umum,dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
·         Tujuan Internasional, adalah ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Yang perwujudanya terletak pada tatanan pergaulan masyarakat internasional.



Pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional mengandung suatu konsekuensi bahwa dalam segala aspek pembangunan nasional kita harus berdasar pada hakikat nilai sila-sila Pancasila yang didasari oleh ontologis manusia sebagai subjek pendukung pokok negara. Dan ini terlihat dari kenyataan obyektif bahwa pancasila dasar negara dan negara adalah organisasi (persekutuan hidup) manusia. Dalam mewujudkan tujuan negara melalui pembangunan nasional yang merupakan tujuan seluruh warganya maka dikembalikanlah pada dasar hakikat manusia “monopluralis” yang unsurnya meliputi : kodrat manusia yaitu rokhani (jiwa) dan raga, sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, dan kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk TuhanYME. Kedudukan Pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional harus mmperlihatkan konsep berikut ini :
·         Pancasila harus menjadi kerangka kognitif dalam identifikasi diri sebagai bangsa
·         Pancasila sebagai landasan pembangunan nasional
·         Pancasila merupakan arah pembangunan nasioanl
·         Pancasila merupakan etos pembangunan nasional
·         Pancasila merupakan moral pembangunan

Masyarakat Indonesia yang sedang mengalami perkembangan yang amat pesat karena dampak pembangunan nasional maupun rangsangan globalisasi, memerlukan pedoman bersama dalam menanggapi tantangan demi keutuhan bangsa. Oleh sebab itu pembangunan nasional harus dapat memperlihatkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
·         Hormat terhadap keyakinan religius setiap orang
·         Hormat terhadap martabat manusia sebagai pribadi atau subjek (manusia seutuhnya)

Sebagai upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia maka pembangunan nasional harus meliputi aspek jiwa, seperti akal, rasa dan kehendak, raga (jasmani), pribadi, sosial dan aspek ketuhanan yang terkristalisasi dalam nilai-nilai pancasila. Selanjutnya dijabarkan dalam berbagai bidang pembangunan antara lain politik, ekonomi, hukum, pendidikan, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta bidang kehidupan agama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hakikatnya Pancasila sebagai paradigma pembangunan mengandung arti atas segala aspek pembangunan yang harus mencerminkan nilai-nilai pancasila.
1.      Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Iptek
Pengembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) merupakan salah satu syarat menuju terwujudnya kehidupan masyarakat bangsa yang maju dan modern. Pengembangan dan penguasaan iptek menjadi sangat penting, manakala dikaitkan dengan kehidupan global yang ditandai dengan persaingan. Namun demikian pengembangan iptek bukan semata-mata untuk mengejar kemajuan meterial melainkan harus memperlihatkan aspek-aspek spiritual. Artinya, pengembangan iptek harus diarahkan untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Dengan pemikiran diatas dapat kita ketahui adanya tujuan essensial daripada iptek, yaitu demi kesejahteraan umat manusia, sehingga pada hakikatnya iptek itu tidak bebas nilai, melainkan terikat oleh nilai.
Pancasila merupakan satu kesatuan dari sila silanya harus merupakan sumber nilai, kerangka pikir serta asas moralitas bagi pembangunan iptek. Sebagai bangsa yang memiliki pandangan hidup pancasila, maka tidak berlebihan apabila pengembangan iptek harus didasarkan atas paradigma pancasila. Apabila kita melihat sila demi sila menunjukkan sistem etika dalam pembangunan iptek.
Ø  Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, mengkomplementasikan ilmu pengetahuan, mencipta, perimbangan antara rasional dan irasional, antara akal, rasa dan kehendak. Sila ini menempatkan manusia di alam semesta bukan merupakan pusatnya melainkan sebagai bagian yang sistematik dari alam yang diolahnya (T. Jacob, 1986), dapat disimpulkan berdasarkan sila ini iptek selalu mempertimbangkan dari apa yang ditemukan, dibuktikan, dan diciptakan, adakah kerugian bagi manusia.
Ø  Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, menekankan bahwa iptek haruslah bersifat beradab dan bermoral, sehingga terwujud hakikat tujuan iptek yaitu, demi kesejahteraan umat manusia. Bukan untuk kesombongan dan keserakahan manusia melainkan harus diabdikan demi peningkatan harkat dan martabat manusia.
Ø  Sila Persatuan Indonesia, memberikan kesadaran kepada bangsa indonesia bahwa rasa nasionalime bangsa indonesia akibat dari adanya kemajuan iptek, dengan iptek persatuan dan kesatuan bangsa dapat terwujud dan terpelihara, persaudaraan dan persahabatan antar daerah diberbagai daerah terjalin karena tidak lepas dari faktor kemajuan iptek. Oleh sebab itu iptek harus dikembangkan untuk memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa dan selanjutnya dapat dikembangkan dalam hubungan manusia indonesia dengan masyarakat internasional.
Ø  Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, mendasari pengembangan iptek secara demokratis. Disini ilmuwan tidak hanya ditempatkan untuk memiliki kebebasan dalam pengembangan iptek, namun juga harus ada saling menghormati dan menghargai kebebasan orang lain dan bersikap terbuka untuk menerima kritikan, atau dikaji ulang dan menerima perbandingan dengan penemuan teori lainya.
Ø  Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, iptek didasarkan pada keseimbangan keadilan dalam kehidupan kemanusiaan, yaitu keseimbangan keadilan dalam hubunganya dengan dirinya sendiri, manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia lain, manusia dengan masyarakat bangsa dan negara, serta manusia dengan alam lingkunganya (T. Jacob, 1986).
Jadi dapat disimpulkan bahwa sila-sila pancasila harus merupakan sumber nilai, kerangka pikir serta basis moralitas bagi pengembangan iptek.



2.      Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan POLEKSOSBUD HANKAM
              Dalam bidang kenegaraan penjabaran pembangunan dituangkan dalam GBHN yang dirinci dalam bidang-bidang operasional serta target pencapainya, bidang tersebut meliputi POLEKSOSBUD HANKAM. Dalam mewujudkan tujuan seluruh warga harus kembali berdasar pada hakikat manusia yaitu monopluralis, yang artinya meliputi berbagai unsur yaitu rokhani-jasmani, individu-makhluk sosial, serta manusia sebagai pribadi-makhluk Tuhan YME. Maka hakikat manusia merupakan sumber nilai bagi pengembangan POLEKSOSBUD HANKAM, guna membangun martabat manusia itu sendiri.
a.      Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Bidang Politik
Politik sangat berperan penting dalam peningkatan harkat dan martabat manusia, karena sistem politik negara harus berdasarkan hak dasar kemanusiaan, atau yang lebih dikenal dengan hak asasi manusia. Sehingga sistem politik negara pancasila mampu memberikan dasar-dasar moral, diharapakan supaya para elit politik dan penyelenggaranya memiliki budi pekerti yang luhur, dan berpegang pada cita-cita moral rakyat yang luhur. Sebagai warga negara indonesia manusia harus ditempatkan sebagai subjek atau pelaku politik, bukan sekedar objek politik yang diharapkan kekuasaan tertinggi ada pada rakyat. Kekuasaan adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Karena Pancasila sebagai paradigma dalam berpolitik, maka sistem politik di indonesia berasaskan demokrasi, bukan otoriter.
Berdasar pada hal diatas, pengembangan politik di indonesia harus berlandaskan atas moral ketuhanan, moral kemanusiaan, moral persatuan, moral kerakyatan, dan moral keadilan, apabila pelaku politik baik warga negara maupun penyelenggaranya berkembang atas dasar moral tersebut maka akan menghasilkan perilaku politik yang santun dan bermoral yang baik.
b.      Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Ekonomi
Sesuai dengan Paradigma Pancasila dalam pembangunan ekonomi, maka sistem dan pembangunan ekonomi berpijak pada nilai moral daripada pancasila. Secara khusus, sistem ekonomi harus mandasarkan pada moralitas ketuhanan, dan kemanusiaan. Hal ini untuk menghindari adanya pengembangan ekonomi yang cenderung mengarah pada persaingan bebas, yaitu yang terkuat dialah yang akan menang, seperti yang pernah terjadi pada abad ke-18, yaitu tumbuhnya perekonomian kapitalis. Dengan adanya kejadian pada abad ke-18 tersebut, maka eropa pada awal abad ke-19 bereaksi untuk merubah perkembangan ekonomi tersebut menjadi sosialisme komunisme, yang berjuang untuk nasib rakyat proletar yang sebelumnya ditindas oleh kaum kapitalis.
Ekonomi yang humanistik mendasarkan pada tujuan demi mensejahterakan rakyat luas, sistem ekonomi ini di kembangkan oleh mubyarto, yang tidak hanya mengejar pertumbuhan saja melainkan demi kemanusiaan dan kesejahteraan seluruh bangsa. Tujuan ekonomi adalah memenuhi kebutuhan manusia, agar manusia menjadi lebih sejahtera, oleh sebab itu kita harus menghindarkan diri dari persaingan bebas, monopoli dan yang lainnya yang berakibat pada penderitaan manusia dan penindasan atas manusia satu dengan lainnya.


c.       Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Sosial Budaya
Pancasila pada hakikatnya bersifat humanistik karena memang Pancasila berdasar pada hakikat dan kedudukan kodrat manusia itu sendiri. Hal ini sebagaimana tertuang dalam sila kemanusiaan yang adil dan beradab, yang diharapkan menghasilkan manusia yang berbudaya dan beradab.
Dalam rangka melakukan reformasi disegala bidang, hendaknya indonesia berdasar pada sistem nilai yang sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh bangsa indonesia itu sendiri yaitu nilai pancasila yang merupakan sumber normatif bagi peningkatan humanisasi khususnya dalam bidang sosial budaya. Sebagai kerangka kesadaran pancasila dapat merupakan dorongan untuk ;
1.      Universalisasi, yaitu melepaskan simbol-simbol dari keterkaitan struktur
2.      Transendentalisasi, yaitu meningkatkan derajat kemerdekaan manusia dan kebebasan spiritual (koentowijoyo,1986)
Dengan demikian proses humanisasi universal akan dehumanisasi serta aktualisasi nilai hanya demi kepentingan kelompok sosial tertentu yang diharapkan mampu menciptakan sistem sosial budaya yang beradab.
Berdasar sila Persatuan Indonesia pembangunan sosial budaya dikembangkan atas dasar penghargaan terhadap nilai sosial dan budaya-budaya yang beragam di seluruh wilayah nusantara menuju pada tercapainya rasa persatuan sebagai bangsa. Pengakuan serta penghargaan terhadap budaya dan kehidupan sosial berbagai kelompok bangsa sangat diperlukan sehingga mereka merasa dihargai dan diterima sebagai warga bangsa, dengan demikian pembangunan sosial budaya tidak akan menciptakan kesenjangan, kecemburuan, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial.
d.      Pancasila sebagai Paradigma Hankam
Salah satu tujuan bernegara adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, hal ini mengandung makna bahwa tugas dan tanggung jawab tidak hanya terletak pada penyelenggara negara semata, akan tetapi juga rakyat Indonesia secara keseluruhan. Atas dasar tersebut sistem pertahanan dan keamanan adalah mengikut sertakan seluruh komponen bangsa. Sistem partahanan dan keamanan Indonesia disebut sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (sishankamrata).
Dasar-dasar kemanusiaan yang beradab merupakan basis moralitas pertahanan dan keamanan negara. Maka dari itu pertahanan dan keamanan negara harus mendasarkan pada tujuan demi terjaminya harkat dan martabat manusia, terutama secara rinci terjaminya hak-hak asasi manusia. Dengan adanya tujuan tersebut maka pertahanan keamanan negara harus dikembangkan berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, guna mencapai tujuan yaitu demi tercapainya kesejahteraan hidup manusia sebagai makhluk Tuhan YME (sila II), Pancasila juga harus mendasarkan pada tujuan demi kepentingan warga sebagai warga negara (Sila III), pertahanan keamanan harus mampu menjamin hak-hak dasar, persamaan derajat serta kebebasan kemanusiaan (sila IV) dan akhirnya pertahanan keamanan haruslah diperuntukkan demi terwujudnya keadilan keadilan dalam hidup masyarakat atau terwujudnya suatu keadilan sosial, dan diharapkan negara benar-benar meletakkan pada fungsi yang sebenarnya sebagai negara hukum dan bukannya suatu negara yang berdasarkan atas kekuasaan sehingga mengakibatkan suatu pelanggaran terhadap hak asasi manusia.
e.       Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Kehidupan Beragama
Tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia mengalami adanya suatu kemunduran, yaitu kehidupan beragama yang tidak berkemanusiaan. hal ini dapat kita lihat adanya suatu kenyataan banyak terjadinya konflik sosial pada masalah-masalah SARA, terutama pada masalah agama, sebagai contoh tragedi di Ambon, Poso, Medan, Mataram, Kupang, dan masih banyak lagi daerah yang lain yang terlihat semakin melemahnya toleransi dalam kehidupan beragama sehingga menyimpang dari asas kemanusiaan yang adil dan beradab.
Pancasila telah memberikan dasar-dasar nilai yang fundamental bagi umat bangsa untuk dapat hidup secara damai dalam kehidupan beragama di negara Indonesia tercinta ini. Sebagai makhluk Tuhan YME manusia wajib untuk beribadah kepada Tuhan YME dimanapun mereka hidup. Akan tetapi Tuhan menghendaki kehidupan manusia yang penuh kedamaian dengan hidup berdampingan, saling menghormati, meskipun Tuhan menciptakan adanya perbedaan, berbangsa-bangsa, bergolong-golong, berkelompok, baik sosial, politik, budaya maupun etnis tidak lain untuk kehidupan yang damai berdasar pada kemanusiaan.
Dalam Pokok Pikiran IV, negara menegaskan bahwa, Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, hal ini berarti bahwa kehidupan dalam negara berdasar pada nilai-nilai ketuhanan, dengan memberikan kebebasan atas kehidupan beragama atau dengan menjamin atas demokrasi dibidang agama. Setiap agama memiliki dasar-dasar ajaran yang sesuai dengan keyakinan masing-masing dengan mendasarkan pergaulan kehidupan dalam beragama atas nilai-nilai kemanusiaan yang beradab dan berdasar bahwa pemeluk agama adalah bagian dari umat manusia di dunia. Maka sudah seharusnya negara Indonesia mengembangkan kehidupan beragama ke arah terciptanya kehidupan bersama yang penuh toleransi, saling menghargai berdasar pada nilai kemanusiaan yang beradab.

GEOMORFOLOGI JAWA BARAT

Jawa Barat 
Garis arah tipe pulau jawa dimulai dari sebelah timur teluk Pelabuhan Ratu.bagian terbarat disebut Banten., yang dalam beberapa hal mempunyai hubungan lebih erat dengan selat sunda. Di banten barat laut munculah beberapa kelompok vulkan diatas dataran tanah rendah utara jawa. Pertama : gunung Gedhe (595 m) dengan pelabuhn Merak pada kaki baratnya, dan kedua, kelompok danau dengan puncaknya gunung Karang (1778 m), gunung pulau sari (1.346 m). Vulkan-vulkan ini termasuk aktivitas eruptis yang disertai pemisahan dari selat sunda seperti vulkan-vulkan dipulau prinsen, kelompok Krakatau, Sebei, Sebuku, Sangiang yang melintangditengah selat sunda dan vulkan Tanggamus, Ratai, betung dan Radjabasa padaperbatasanSumatera dan selat ini. Semenanjung Ujung Kulon (p-ajong, 480 m) dan Punggungan honje (620) disebelah tenggara Banten dipisahkan dari jawa oleh laut, pada zaman pliosin, membentuk ujung tenggara rangkaian Barisan dari sumatera. 
             Rantai penghubung antara teluk semangko pada pantai sumatra. Punggungan hondje di hubungkan oleh sebuah punggungan rendah dari lapisan pliosin dengan puncak barat di banten tenggara. Pengangkatan ini merupakan peralihan antara kerangka struktur daerah Selat Sunda dan pulau jawa yang sebenarnya. Daerah Selat sunda telah menjadi sebuah tanah tinggi yang luas pada masa tertiair serta merupakan ambang antara basin-basin geosinklinal sumatra timur dan jawa bagian utara. Seperti daerah Selat Sunda, pada sisi utaranya di batasi oleh pertumbuhan vulkan-vulkan muda yaitu ; Malang (909 m0, Endut (1297 m), Halimun I (1929 m), halimun II (1750 m).
          Dataran tanah rendah banten timur laut, sebelah utara Bajah dan sebelah timur kelompok danau vulkanis, terdiri dari lapisan tertiair muda yang mengalami perlipatan yang lemah, dan tertutup oleh vulkan kwartair dan endapan alluvial. Arah lipatan itu ialah utara selatan, yang pada sebelah kanannya tegak lurus terhadap arah timur barat dari lipatan pada geosinklinal jawa utara.lipatan arah Utara-Selatan ini muncul pada permulaan pulau karang di luar pantai Utara Jawa, sebelah Utara Tangerang. Kerangka yang sebenarnya dari pulau jawa dimulai dari sebelah timur garis penghubung antara kepulauan Seribu dan teluk Pelabuhan Ratu. Bagian jawa barat yang terletak diantara garis ini dan Cirebon lebarnya antara 150-175 km. Daerah itu dibentuk oleh sebuah dataran tanah rendah alluvial dibagian utara , dan sebuah jalur berbukuit-bukit dibagian selatan, yang merupakan ¼ dan ¾ bagian dari system prsilangan itu. 
             Dataran Jakarta lebarnya kurang lebih 40 km, terbentang dari Serang serta Rangkasbitung di Banten sampai ke Cirebon. Daerah itu sebagian besar terdiri dari endapan alluvial dari sungai dan lahar (mud flows) dari vulkan-vulkan didaerah pedalamannya, yang kebetulan dilindungi oleh sedimen marine tertiair yang sedikit mengalami perlipatan. Kerarah selatan diikuti oleh sebuah jalur yang kompleks terdiri dari bukit-bukit dan pegunungan-pegunungan, pelampang melintangnya kurang lebih 40 km serta membentang dari daerah Jasinga dekat perbatasan Banten sampai sungai Pemali dan Bumiayu di Jawa Tengah.

METODE DALAM SOSIOLOGI

Mengapa perlu metodologi dalam sosiologi, metode apa yang lazim digunakan dalam sosiologi dan apa yang harus dilakukan bagi siapa saja yang akan mempelajari Sosiologi serta apa saja hambatan yang akan dikaji oleh mereka yang ingin melakukan kajian/peneletian sosiologi ? Sosiologi dibutuhkan metodelgi dalam penerapannya karena dalam sosiologi merupakan suatu ilmu yang dapat diperlukan adanya usaha untuk mengobservasi objek dengan tepat. Dengan memperhatikan kebenaran yang harus dilakukan oleh peniliti terhadap siapa yang akan menggunakan pembelajarn geografi serta dalam metodelogi dalam sosiologi juga dapat membantu dalam sumber fakta/data dengan menggunakan alat sebagai untuk pengungkap fakta dalam metode dalam sosiologi dan metodelogi dalam sosiologi juga menggunakan tekhnik analisis yang dapat menunjang dalam penerapan sosiologi untuk memperoleh fakta/data yang ingin dikaji baik untuk menggunakan analisis diskriptif, kulitatif maupun dengan tekhnik analisis statistik. Metode yang lazim dalam sosiologi adalah dengan menggunakan metode penelitian survai, Karena dengan menggunakan penelitian survai peneliti dapat mendapatkan informasi secara langsung dari beberapa informan dengan tatap muka secara langsung dari suatu objek (tempat) untuk memperoleh informasi sesuai dengan apa yang akan peneliti teliti dengan menggunkan metode penelitian sosiologi yang digunakan. Pada penelitian survai peneliti dapat melihat keadaan lapangan secara langsung sehingga peniliti dapat mengetahui keadaan di lapangan yang sesungguhnya untuk mencari data yang di butuhkan baik dari melihat objek yang ada dan bisa melakukan metode wawancara kepada informan di objek tempat peneliti melakukan penelitian tersebut. Yang harus dilakukan dalam mempelajari sosiologi adalah Seseorang ataupun peneliti harus mempelajari kehidupan manusia dalam suatu lingkungan yang luas dengan memilih sesuatu yang perlu memperhatikan karakter suatu objek, tapi tidak semua metode sesuai untuk ditetapkan, Karena objek penelitian adalah manusia ( yang masih hidup ), harus sesuai dengan metode yang sesuai. Dalam hal ini difokuskan terhadap kajian sosiologi bagaimana penerapan sosiologi dan bagaimana cara mengembangkan dan mengkaji ulang berbagai macam prespektif-prespektif sosiologi itu dalam kehidupan sehari-hari dan hubungannya terhadap ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan ilmu sosiologi yang dapat menunjang prespektif sosiologi terhadap ilmu lain sehingga sosiologi dapat dikembangkan seiring dengan globalisasi dan moderenisasi dalam kehidupan pada saat ini. Hambatan yang sering dihadapai dalam kajian penelitian sosiologi adalah objek studi manusia, sehingga tidak dapat dikendalikan menurut kemampuan peniliti, adapun hambatan yang dihadapi oleh peneliti sebagai berikut : a. Phenomena kehidupan manusia yang sangat kompleks Phenomena kehidupan manusia yang beraneka ragam dari status kehidupan sosialnya membuat peneliti mengalami kendala terhadap penelitian, soalnya tidak semua kalangan yang bisa dijadikan informan untuk membandingakan hasil data yang telah didapatkan antara informan yang satu dengan informan yang lainnya. b. Terjadi perubahan terus menerus Perubahan yang secara terus menerus yang diakibatkan oleh pengaruh globalisasi dan moderenisasi pada suatu wilayah dapat berdampak terhadap penduduk dalam suatu daerah tersebut selain itu juga pertambahan penduduk juga mempengaruhi keadaan dalam suatu daerah sehingga menyebabkan kendala bagi peneliti yaitu tidak validnya data yang didapatkan dari daerah yang akan dijadiakan objek peneliti. c. Tingkah laku manusia yang tidak dapat dipredikisi Berbagai macam karakter informan yang akan dijadiakan narasumber juga terkadang menjadi kendala bagi peneliti. Terkadang seseorang yang di teliti sering memberi informasi tidak sesuai dengan kenyataan yang ada sehingga kendala bagi peneliti tidak dapat mendapatkan informasi yang sesungguhnya, selain itu juga tingkah laku manusia juga terkait dengan dengan adat kebudayaan daerah setempat yang terkadang masih berfikir tradisional dan bertingkah laku sesuai dengan adat daerah setempat sehingga untuk mendapatkan informasi dari informan menjadi terhambat.

Monday, October 8, 2012

PERUBAHAN DALAM MASYARAKAT


1. Faktor-Faktor Pendorong Perubahan
a.       Adanya Kontak dengan Kebudayaan Lain
Kontak dengan kebudayaan lain dapat menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampu menghimpun penemuan-penemuan baru yang telah dihasilkan. Penemuan-penemuan baru tersebut dapat berasal dari kebudayaan asing atau merupakan perpaduan antara budaya asing dengan budaya sendiri. Proses tersebut dapat mendorong pertumbuhan suatu kebudayaan dan memperkaya kebudayaan yang ada.
b.      Sistem Pendidikan Formal yang Maju
Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama membuka pikiran dan mem-biasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan memberikan kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya dapat memenuhi perkembangan zaman atau tidak.
c.       Sikap Menghargai Hasil Karya Orang Lain
Penghargaan terhadap hasil karya seseorang akan mendorong seseorang untuk berkarya lebih baik lagi, sehingga masyarakat akan semakin terpacu untuk menghasilkan karya-karya lain.
d.       Toleransi terhadap Perbuatan yang Menyimpang
Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan tindak pidana, dapat merupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya.Untuk itu, toleransi dapat diberikan agarsemakin tercipta hal-hal baru yang kreatif.
e.        Sistem Terbuka Masyarakat ( Open Stratification )
Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal atau horizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagi mempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan sesamanya. Hal ini membuka kesempatan kepada para individu untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya.
f.        Heterogenitas Penduduk
Di dalam masyarakat heterogen yang mempunyai latar belakang budaya, ras, dan ideologi yang berbeda akan mudah terjadi pertentangan yang dapat menimbulkan kegoncangan sosial. Keadaan demikian merupakan pendorong terjadinya perubahan-perubahan baru dalam masyarakat dalam upayanya untuk mencapai keselarasan sosial.
g.      Orientasi ke Masa Depan
Pemikiran yang selalu berorientasi ke masa depan akan membuat masyarakat selalu berpikir maju dan mendorong terciptanya penemuan-penemuan baru yang disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.
h.       Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Tertentu
Ketidakpuasan yang berlangsung lama di kehidupan masyarakat dapat menimbulkan reaksi berupa perlawanan, pertentangan, dan gerakan revolusi untuk mengubahnya.
i.         Nilai Bahwa Manusia Harus Senantiasa Berikhtiar untuk Memperbaiki Hidupnya
Ikhtiar harus selalu dilakukan manusia dalam upaya memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas.



Masyarakat mengalami perubahan disebabkan oleh faktor-faktor yang bersifat internal maupun eksternal, serta faktor-faktor yang bersifat material ataupun nonmaterial (ideologis).
Faktor-faktor eksternal, yaitu pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
  1. Difusi, yaitu penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari kelompok atau golongan ke kelompok atau golongan lain dalam suatu masyarakat .
  2. Kontak Kebudayaan (Akulturasi), yaitu dua kelompok atau lebih kebudayaan yang saling berbeda bertemu dan berinteraksi secara intensif kemudian di antara mereka terjadi saling menyerap atau menggunakan unsur kebudayaan lainnya.
  3. Asimilasi (pembauran atau perkawinan budaya), yaitu dua atau lebih kelompok dengan kebudayaan yang berbeda, saling berinteraksi secara intensif sehingga terjadi pembauran atau peleburan di antara dua kelompok atau lebih tersebut membentuk kelompok baru.
Faktor-faktor internal
  1. Perubahan aspek demografi (bertambah dan berkurangnya penduduk).
  2. Konflik antar kelompok dalam masyarakat.
  3. Terjadinya gerakan sosial atau pemberontakan (revolusi).
  4. Penemuan-penemuan baru, meliputi:
> Discovery, penemuan ide, alat, atau hal baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya.
> Invention, penyempurnaan penemuan-penemuan pada discovery oleh individu atau serangkaian individu.
> Inovation, diterapkannya ide, alat, atau hal baru tersebut, melengkapi atau menggantikan ide/alat/hal yang lama.
Faktor-faktor yang mendorong aktivitas penemuan baru dalam masyarakat, antara lain: Kesadaran akan kekurangan unsur dalam kebudayaannya, terdapat ahli-ahli yang mampu menjawab kekurangan unsur, dan
Adapun faktor-faktor penyebab perubahan dalam masyarakat yang bersifat material dan juga nonmaterial (ideologis).
Faktor-faktor yang bersifat material
  1. Lingkungan alam.
  2. Kondisi fisik-biologis.
  3. Alat-alat dan teknologi baru, khususnya Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Faktor-faktor yang bersifat nonmaterial
  1. Meliputi ide-ide atau pemikiran baru, ideologi, dan nilai-nilai lain yang hidup dalam masyarakat.

Tuesday, September 18, 2012

GEOMORFOLOGI PULAU KALIMANTAN


Kalimantan adalah pulau pajang kedua luasnyadi indonesia ( 736.000 ) km2, lebih luas dari pada  peancis. Sarawak, brunei, labuhan dan kalimantan utara, politis wilayah ingris ( 196.000 km2, sedangkan kalimantan barat, kalimantan selatan dan kalimantan timur termasuk bgian indonesia ( 539. 500 km2 )
A.    KEADAAN OROGRAFIS DAN HYDROGRAFISNYA
     Secara kasar bagian ini merupakan sebuah segitiga. Dengan segitiga semenanjung kecil pada sisi timur laut ( semenanjung mangkaliat, dan dua ujung yang membatasi teluk darvel ). Pulau itu berbukit-bukit luas dan reliefnya bergunung-gunung yang tingginya kebanyakan tidak lebih dari 1500 m. Sebuah sistem pegunungan yang lebar ( luas ) melintasi pulau itu dari pegunungan kinabalu atau kinibalu, 4175 m tingginya, (merupakan puncak tertinggi pulau itu ), melalui pegunungan iran dan muler kearah pegunungan schwarner ( dengan bukit raja, 2.278 m ) di bagian barat saja.
B.     GARIS ARAH STRUKTURAL ( STRUCTURAL TRENDLINES )
Uraian ini hanya akan memberikan gambaran kasar mengenai arti geologis daerah itu  yang hanya di dasarkan atas data-data orogarafis dan hydrografis. Teras kontinen ini membentuk bagian dari massa daratan sunda yang tua. Batas utara di bentuk oleh kelompok pegunungan yang membentang dari ujung datuk melalui gunung Niut dan plato Madi kearah pegunungan Muller. Tepi selatannya dibentuk oleh pegunungan rendah yang membentang dari tempat tersebut kepantai selatan. Kedua jalur batuan (tepi dari massa tanah sunda yang tua ) selatan sunda di tandai dengan intrusivulkanis dan ekstrusiterakhir. Jalur vulkan terakhir ini bertemu dipegunungan Muller dan selanjutnyamembentang kearah timur laut melalui Batuajan ( 1.652 m )ke kongkemal ( 2053 ) dan berakhir pada pegunungan Datong yang rendahsebelah barat Tarakan.
Dari kongkemal sebuah pegunungan yang komleks bercabang kearah timur menuju pegunungan Niapa ( 1.275m ) dan dari tempat tersebut basement kompleks merosot dengan teratur dibawh lapisan terakhir pada semenanjung Mangkaliat. Massa tanah sundamenyusup ke kalimantan seoerti sebuah biji besi yang besar, dan lebar dasarnya 600 km, sepanjang pantai barat diantara Ujung Datuk dan Ujung Sambar. Biji batuan terakhir ini membetuk kerangaka struktur dari kalimantan sunda.  Rangkaian pegunungan itu dipisahkan oleh Lembah Rejang ari sebuah punggungan yang tinginya berangsur-angsur berkurang dari 1000 m yang  dicekung kearah barat laut.
Disebelah tenggara dan timur kerangka struktural kalimantan, basement kompleks pre-tertiair, menghilang dibawah basin-basin bagian selatan dan timur dari pulau itu dan tempat itu telah mengendap beribu-ribu metersedimen tertiair.Basement kompleks itu muncul kearah pantaungaii timur, merosot dalam sepanjang selat Makasar dan tampak dipulau-pulau kecil. Basin tepi pada kalimantan tenggara dan timur berupa pegunungan yang sedang, tingginya membujur kearah barat daya timr laut.Rangkaian pegunungan Meratus-Saamarinda adalah hasil orogenesis terakhir pada sisi tenggarakerangka struktur pada pulau itu. Orogenesis itu membentuk bagian yang berlawanan dari rangkaian pegunungan terakhir Serawak pada sisi barat lautnya.
C.     TIGA SUNGAI BESAR DI KALIMANTAN
Tiga sungai terbesar di kalimantan ialag sungai Kapuas, sungai Barito dan sungai Mahakam. Sungai Kapuas itu mengalir ke arah barat menuju  palung di bagian barat yang bermuara dengan beberapa cabang kedalam laut sunda dekat pontianak dengan luas 1.143 km.
Sungai kedua ialah sungai Barito yang bermata air pada pegunungan Muller dan mengalir keselatan dengan panjang 900 km dari Muaratewe melalui basin barito yang berawa-rawa. Basin timur di batasi oleh pegunungan Meratus. Bagian barat Basin Barito tertutup oleh lapisan tertiair dan kwartair yang agak tipis, yang berangsur-angsurbertambah tebal kearah sungai Barito. Lapisan dasarnya terdiri dari baemebt kompleks tanah sunda tua yang berkedudukan miring kearah sumbu barito serta terletak pada massa tanah tua kalimantan barat.
Sungai yang ketiga ialah sungai Mahakam ( panjangnya kira-kira 775 km) bermata air di Cemaru ).Pda pertengahan alirannya memotong dataran tanah rendah yang banyak danau-danaunya dan berawa-rawa. Depresi antar pegunungan dipisahkan dari depresi Barito oleh daerah berbukit-bukit yang luas yang timggimya kurang dari 500  m. Sungai Mahakam memotong anticlinorium samarinda dan mencapai delta aluvialnya didekat daerah minyak sanga-sanga. Delta ini meluas seperti kipas yang luas dan menjorok pada laut dangkal, serta mempunyai dasar sebesar 65 km serta berjari-jari kurang lebih 300 km.
1.     Provinsi Kalimantan Barat
      
       Luas Wilayah
Sebagian besar wilayah Kalimantan Barat adalah merupakan daratan berdataran rendah dengan luas sekitar 146.807 km2 atau 7,53 persen dari luas Indonesia atau 1,13 kali luas pulau Jawa. Wilayah ini membentang lurus dari Utara ke Selatan sepanjang lebih dari 600 km dan sekitar 850 km dari Barat ke Timur.
Dilihat dari besarnya wilayah, maka Kalimantan Barat termasuk Provinsi terbesar keempat setelah pertama Irian Jaya (421.891 km2), kedua Kalimantan Timur (202.440 km2) dan ketiga Kalimantan Tengah (152.600 km2). Dilihat dari luas menurut Kabupaten/kota, maka yang terbesar adalah Kabupaten Ketapang (35.809 km2 ata 24,39 persen) kemudian diikuti Kapuas Hulu (29.842 km2 atau 20.33 peresen), dan Kabupaten Sintang (21.635 km atau 14,74 persen), sedangkan sisanya tersebar pada 9 (sembilan) kabupaten/kota lainnya   
Dilihat dari tekstur tanahnya maka, sebagian besar daerah Kalimantan Barat terdiri dari jenis tanah PMK (podsolet merah kuning), yang meliputi areal sekitar 10,5 juta hektar atau 17,28 persen dari luas daerah yang 14,7 juta hektar. Berikutnya, tanah OGH (orgosol, gley dan humus) dan tanah Aluvial sekitar 2,0 juta hektar atau 10,29 persen yang terhampar di seluruh Dati II, namun sebagian besar terdapat di kabupaten daerah pantai.
    Danau
 Dari danau-danau yang ada di kalimantan, hanya dua danau yang cukup berarti. Kedua danau ini adalah Danau Sentarum dan Danau Luar I yang berada di Kabupaten Kapuas Hulu. Danau Sentarum mempunyai luas 117.500 hektar yang kadang-kadang nyaris kering di musim kemarau, serta Danau Luar I yang mempunyai luas sekitar 5.400 hektar. Kedua danau ini mempunyai potensi yang baik sebagai objek wisata.  
.          Gunung-gunung
Dipengaruhi oleh dataran rendah yang amat luas, maka ketinggian gunung-gunung relatif rendah serta non aktif. Gunung yang paling tinggi adalah gunung Baturaya di Kec. Serawai, Kab. Sintang yang mempunyai ketinggian 2.278 meter dari permukaan laut, jauh lebih rendah dibanding G. Semeru (Jatim,3.676 meter) atau G. Kerinci (Jambi, 3.805 meter).
Gunung Lawit yang berlokasi di Kapuas Hulu, Kec. Embaloh Hulu dan lebih dahulu dikenal di Kalimantan Barat, ternyata hanya menempati tertinggi ketiga karena mempunyai tinggi 1.767 meter, sedangkan tertinggi kedua adalah Gunung Batusambung (Kec. Ambalau) dengan ketinggian mencapai 1.770 meter.
        Pulau-pulau
 Walaupun sebagian kecil wilayah Kalbar merupakan perairan laut, akan tetapi Kalbar memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Propinsi Riau, Sumatera. Pulau-pulau besarnya seperti Pulau Karimatan dan Pulau Maya, Pulau Penebangan, Pulau Bawal dan Pulau Gelam di perairan Selat Karimata, Kab. Ketapang. Pulau besar lainnya antara lain adalah Pulau Laut, Pulau Betangin Tengah, Pulau Butung, Pulau Nyamuk dan Pulau Karunia di Kab. Pontianak.Sebagian kepulauan ini, terutama di wilayah Kab. Ketapang merupakan Taman Nasional serta wilayah perlindungan atau konservasi.
 Penggunaan Tanah
Sebagian besar luas tanah di Kalimantan Barat adalah hutan (42,32%) dan padang/semak belukar/alang-alang (34,11%). Adapun areal hutan terluas terletak di Kabupaten Kapuas Hulu seluas 1.964.491 ha, sedangkan padang/semak belukar terluas berada di Kabupaten Ketapang yaitu seluas 1.374.145 ha. Sementara itu areal perkebunan mencapai 1.574.855,50 atau 10,73 %. Dari 14,68 ribu ha luas Kalimantan Barat, areal untuk pemukiman hanya berkisar 0,83 persen. Adapun areal pemukiman terluas berada di Kabupaten Sintang diikuti kemudian oleh Kabupaten Sanggau dan kabupaten Ketapang.
2. Provinsi Kalimantan Tengah

3.  Propinsi Kalimantan Selatan
Propinsi Kalimantan Selatan dengan ibukotanya Banjarmasin terletak di sebelah selatan pulau Kalimantan dengan batas-batas: sebelah barat dengan propinsi Kalimantan Tengah, sebelah timur dengan Selat Makasar, sebelah selatan dengan Laut Jawa dan di sebelah utara dengan propinsi Kalimantan Timur.
Image.
Daerah yang paling luas di propinsi Kalsel adalah Kabupaten Kotabaru dengan luas 13.044,50 km², kemudian Kabupaten Banjar dengan luas 5.039,90 km² dan Kabupaten Tabalong dengan luas 3.039,90 km², sedangkan daerah yang paling sempit adalah Kota Banjarmasin dengan luas 72,00 km².
Kalimantan Selatan secara geografi terletak di sebelah selatan pulau Kalimantan dengan luas wilayah 37.530,52 km2 atau 3.753.052 ha. Sampai dengan tahun 2004 membawahi kabupaten/kota sebanyak 11 kabupaten/kota dan pada tahun 2005 menjadi 13 kabupaten/kota sebagai akibat dari adanya pemekaran wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara dengan Kabupaten Balangan dan Kabupaten Kotabaru dengan Kabupaten Tanah Bumbu.
Luas wilayah propinsi tersebut sudah termasuk wilayah laut propinsi dibandingkan propinsi Kalimantan Selatan. Luas wilayah masing-masing Kabupaten Tanah Laut 9,94 %; Tanah Bumbu 13,50%; Kotabaru 25,11%; Banjar 12,45%; Tapin 5,80%; Tabalong 9,59%; Balangan 5,00%; Batola 6,33%; Banjarbaru 0,97% dan Banjarmasin 0,19%. Secara rinci luas wilayah dan batas wilayah serta panjang garis pantai dapat dilihat pada tabel 1
Daerah aliran sungai yang terdapat di Propinsi Kalimantan Selatan adalah: Barito, Tabanio, Kintap, Satui, Kusan, Batulicin, Pulau Laut, Pulau Sebuku, Cantung, Sampanahan, Manunggal dan Cengal. Dan memiliki catchment area sebanyak 10 (sepuluh) lokasi yaitu Binuang, Tapin, Telaga Langsat, Mangkuang, Haruyan Dayak, Intangan, Kahakan, Jaro, Batulicin dan Riam Kanan.


3. LETAK GEOGRAFIS KALIMANTAN TIMUR
         Propinsi daerah tingkat I Kalimantan Timur mempunyai luas wilayah kurang
lebih 113 km. Keadaan Kalimantan Timur terdiri dari dataran rendah, kemudian perbukitan dan diakhiri dengan pegunungan. Disebelah barat terdapat bentangan pegunungan Iban dan Muller yang merupakan batas alam dengan wilayah Serawak / Malaysia Timur. Di sebelah selatan membujur pegunungan Meratus yang merupakan batas alam dengan propinsi Kalimantan Selatan. Kalimantan Timur ditutupi oleh hutan lebat, dan bagian pantai timur terdapat hutan bakau yang cukup luas. Daerah Kalimantan Timur ini dipengaruhi oleh iklim campuran antara iklim tropis basah dan iklim tropis.
            Wilayah Kalimantan Timur dengan luas mencapai 211.440 km² atau satu setengah kali pulau Jawa dan Madura, sebagian besar merupakan daratan yakni 20.039.500 Ha. (81,71%), sedangkan lautan hanya 4.484.280 Ha. (18,29%). Daerah yang terkenal sebagai gudang kayu ini mempunyai ratusan sungai yang tersebar di hampir semua kabupaten dan kota dengan sungai terpanjang Sungai Mahakam.

Batas wilayah provinsi yang menjadi pintu gerbang utama pembangunan Indonesia di bagian timur ini adalah :
Utara
:
Negara Bagian Sabah (Malaysia Timur).
Timur
:
Selat Makasar, Laut Sulawesi dan Selat Sulawesi.
Selatan
:
Kalimantan Selatan.
Barat
:
Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Negara Bagian Serawak (Malaysia Timur).
                Ibukota provinsi Kalimantan Timur adalah Samarinda yang terletak di tepi Sungai Mahakam. Samarinda dapat dicapai lewat darat dan udara, meskipun harus transit di Kota Balikpapan yang merupakan tempat beradanya Bandara Internasional Sepinggan. Kemudian dilanjutkan dengan penerbangan Cassa 212 dengan jadwal penerbangan setiap hari kecuali hari Minggu, ke bandara Temindung.

Karakteristik Iklim
provinsi Kalimantan Timur termasuk iklim Tropika Humida dengan curah hujan berkisar antara 1500-4500 mm per tahun. Temperatur udara minimum rata-rata 21°C dan maksimum 34°C dengan perbedaan temperatur siang dan malam antara 5°-7°C.Temperatur minimum umumnya terjadi pada bulan Oktober sampai Januari, sedangkan temperatur maksimum terjadi antara bulan Juli sampai dengan Agustus. 

GALAKSI atau GALAKTIKA

GALAKSI atau GALAKTIKA

Pada waktu malam, ketika langit bersih dan bulan tidak menampakkan dirinya (kondisi bulan mati), kita kadang dapat melihat selempang putih yang membentang di belahan bumi selatan. Selempang putih tersebut nampak sebagai bintik-bintik kabut yang berjuta-juta jumlahnya. Apakah selempang putih tersebut? Mungkinkah awan? Tetapi mengapa letaknya selalu tetap?, yakni di belahan langit utara maupun selatan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terbersit juga di benak Galileo Galilei  yang kemudian dengan cermat dan meneliti kabut yang berjuta-juta tersebut, hingga akhirnya dapat disimpulkan bahwa selempang putih yang berujud seperti kabut tersebut adalah bintang yang berjuta-juta jumlahnya. Para ahli astronomi menyebutnya sebagai galaksi (galaxy) atau galaktika, atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai Milky way (=jalur susu). 

Soal Pendidikan Kewarganegaraan

PAI 1.C Bagaimana relevansi pendidikan kewarganegaraan dalam konteks kehidupan bangsa dan Negara Indonesia saat ini? Berikan p...